Friday, June 20, 2014

Seayat Nuh

Nak, tugas orang tua itu berat. Jauh lebih berat dari apa yang biasa kalian lihat. Dirawatnya anak-anaknya semenjak mereka masih kecil. Dididiknya anak-anaknya hingga mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kuat. Kalian tahu, melihat kalian tumbuh semakin besar, mendengar kalian semakin dewasa adalah hal yang mampu membuat kami menangis tersebab dua hal. 


Pertama, kami menangis bahagia sebab telah berhasil mendidik kalian melewati masa-masa yang sulit. Kalian pasti ingat betul masa-masa sulit itu. Dari sinilah kami yakin, kalian telah memiliki bekal kekuatan yang ada dalam diri kalian.

Kedua, meski kami tak tahu kapan, tapi kami menangis sebab waktu melepas kalian terasa semakin dekat saja. Kami dan kalian berada di dalam sebuah perjalanan. Kelak, kereta yang kalian tumpangi akan berbeda dengan kami. Kalian mungkin ke Barat, kami ke Timur. Tapi kami selalu ingat bahwa bumi ini bulat. Semakin jauh jarak kita, garis penghubung itu semakin membuat kita dekat.

Kalian tahu, Nak. Merawat untuk melepaskan itu bukan perkara mudah. Setidaknya bagi kami. Sekarang, do’a kami tidaklah banyak. Dan yang sedikit ini semoga mampu menghadirkan bahagia di usia kami yang tidak lagi muda. Kami berharap masih diberi waktu mendapati waktu-waktu bersejarah yang akan kalian lewati. Sebab kami yakin, melihat kalian bahagia di hari bahagia adalah nikmat terbesar yang Allah berikan sepanjang hidup kami.

Bukankah kalian selalu tahu, Nak!. Bahagia kalian adalah bahagia kami.
 ***
Dua pasang mata. Menyublim. Lalu menjadi hujan di pasang mata yang lain. Seayat Nuh dilantunkan berkali-kali.

Thursday, June 19, 2014

Semacam Pengingat


Jika saja ada semacam pengingat yang langsung mengetuk kepala begitu saya lupa, maka saya akan meminta dia mengetuk kepala saya sambil menyenandungkan kalimat ini,

Bahwa, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar meminta yang terbaik dari Allah. Nikmat lain yang tak jarang luput dari do’a-do’a manusia.
Ia adalah nikmat kuat dan ikhlas menerima segala ketetapanNya. Terutama ketetapan Allah yang pada perkiraan manusia bukanlah ketetapan yang terbaik. 

Tapi, saya akan meminta agar dia mengetuk kepala saya dengan cara yang baik. Sebab yang baik, lebih bisa masuk ke kepala saya dan biasanya susah sendiri mencari jalan keluar. Biar. Biar mereka terperangkap dalam kepala saya.

Ada yang punya? Mohon kiranya mengetuk kepala saya sekarang juga.

Tuesday, June 3, 2014

Payung Kami Berbeda



Sudah tujuh tahun. Di sini, kami sudah bertingkah seperti laiknya orang bersaudara. Nyaris tidak butuh waktu yang lama untuk menjadi seperti itu. Alhamdulillah, kami yang sudah lama menghuni “rumah sementara” ini selalu diberi kemudahan untuk berinteraksi dan membangun hubungan positif dengan mereka yang baru saja datang hendak menghuni. 

Hasilnya, di sini kami diberi kesempatan belajar membangun keluarga yang baru. Sebab, tentu saja keluarga utama kami berada di kampung halaman masing-masing. Ya, namanya keluarga, tentu yang kami rasakan bukan hanya yang enak-enak. Sesekali, rasa pahit datang menyambar. Menguji tali persaudaraan yang kami bangun. Ada yang nyaris putus. Tapi berkat pertolongan Allah, tali itu terajut kembali dengan ikatan yang lebih kuat. 

Sebagai orang-orang yang dipayungi oleh payung tarbiyah, lingkungan sekitar mendorong kami untuk selalu bercerita panjang lebar tentang dunia Islam dan permasalahannya. Dengan ilmu yang masih terbata-bata, kami belajar dan berdiskusi tentang politik, hukum, kesehatan, ekonomi, dan budaya dalam perspektif Islam.  Bidang keilmuan dan payung tarbiyah kami memang berbeda-beda. Tapi apalah arti perbedaan itu jika yang hendak dilewati adalah hujan dan terik yang sama? Justru lewat payung-payung yang berbeda itulah tali persaudaraan kami dikuatkan. Perbedaan itu pula yang berhasil membuat diskusi-diskusi kami menemukan solusi lewat sudut pandangnya yang berbeda-beda. 

Di penghujung tahun lalu, suatu malam setelah shalat Isya berjama’ah, kami berkumpul di depan televisi yang juga kami beli secara berjama’ah. Waktu itu, kami terjadwal mendengar sebuah kajian dari seorang ustadz yang bernama Armen Halim Naro –semoga Allah merahmatinya-. Sebuah kajian bertema pernikahan. Jangan salah, kalau sudah membahas tema yang satu ini, penghuni rumah akan memiliki daya improvisasi yang luar biasa. Entah darimana datangnya. Refleks jika satu suara menyebut kata “menikah”, maka akan banyak suara-suara sumbang yang entah berasal dari ruangan mana.  Ya, namanya juga perempuan.

Menurut saya, kajian yang dibawakan oleh ustadz Armen Halim Naro terbilang langka. Temanya memang sudah sangat umum dibicarakan. Namun, beliau mampu membawakan kajian pernikahan itu dari sudut pandang yang berbeda. Maka, beberapa hari yang lalu, saya mendengar kembali kajian itu. Hendak merangkum isinya dalam bentuk tulisan yang singkat, padat, dan jelas. Saya tuangkan rangkuman isinya dalam beberapa paragraf saja. Saya ketik dengan hati-hati untuk saya berikan kepada perempuan yang saya cintai dan sayangi karena Allah. 
Akhirnya, di subuh buta selanjutnya, tulisan singkat itu berhasil menginjak seberang propinsi bersamaan dengan kedua kaki saya. Lebih cepat beberapa jam dari ikrar mitsaaqon gholiiza yang hendak diucapkan oleh seorang lelaki kepada perempuan yang saya cintai dan sayangi karena Allah. 

Beberapa jam kemudian, saya pulang dengan bahagia meski lelah. Bersemangat menyelesaikan penelitian sambil menghadiri undangan-undangan pernikahan selanjutnya. Ya, yang terakhir itu, tiba-tiba menjadi “hobby baru” saya di akhir pekan hampir dua bulan ini. Sampai-sampai saya mesti kelimpungan mau menghadiri yang mana (halah). 
Hujan dan terik saling berganti dari balik jendela. Sejauh mata memandang, terlihat payung-payung berpapasan begitu saja. Sebagiannya lagi saling mencari, menemukan, dan ditemukan di tempat berteduh. Kemarin, seseorang dengan payungnya mampir berteduh di rumah sementara kami dan akhirnya menemukan pasangan payungnya. Mereka hendak melewati hujan dan terik bersama-sama. Hobby baru di akhir pekan, sepertinya masih akan berlangsung sampai bulan Ramadhan tiba.


Saturday, May 17, 2014

Titipan-Titipan



Satu hal yang mesti senantiasa kita perbaharui dalam ingatan. Bahwa, akan datang suatu masa yang menghampiri dan mendekati kita. Menepuk bahu, lalu ia biarkan kita berbalik ke arahnya. Membelai lembut rambut kita, semata-mata agar kita menyadari kedatangannya.

Ia, akan meminta kembali semua yang dulu ia titipkan pada diri kita. Lalu tanpa kompromi, ia menagih kerelaan dan keikhlasan kita melepas titipan-titipan itu. Maka, tak sedikit orang yang akan merasa kehilangan, merasa ditinggalkan titipan, lalu perlahan merasakan sedikit demi sedikit penyesalan. Menyesal, mengapa tidak sedari dulu titipan itu dijaga sebaik-baiknya, agar baik pada saat waktu pengembaliannya.

Maka titipan-titipan itu, mari kita jaga dengan sebaik-baik penjagaan, sebaik-baik kemanfaatan. Ciptakan kekebalan yang mumpuni agar kita tetap bertahan terhadap rasa pedih. Kelak, jika masa itu tiba, menghampiri dan mendekati kita, rasa pedih yang dulu terasa, bukan lagi kesia-siaan yang hampa. Sebab, titipan-titipan itu telah menjelma menjadi berkas cahaya yang menuntun jalan pemiliknya menuju kenikmatan yang nyata.

Thursday, May 1, 2014

Monolog Pagi



Mengurus kode etik penelitian itu memberi banyak analogi tentang hidup. Kamu diajarkan banyak hal. Bahwa hidup itu tak jauh-jauh dari berusaha, merevisi, menanti, bersabar, dan tawakkal. 

Kamu, tidak semua yang kamu lakukan dan usahakan itu benar adanya. Sewaktu-waktu kamu perlu merevisi beberapa hal. Mungkin revisi ini akan menyita sedikit waktumu, meminta sedikit tenagamu. Tak penting seberapa kali revisi itu kamu lakukan. Yang penting adalah, kamu mampu menemukan dan memahami kebenaran setelah revisi itu. Kamu, akan menjadi lebih baik.

Kamu, dengan segala pradugamu yang menari di kepala, mesti memahami. Bahwa, tidak semua hal cukup dengan hanya diduga saja. Beberapa hal, tidak akan kamu pahami dengan baik sebelum kamu melakukan, merasakan. Petik hikmah yang masih berembun. Kamu, akan menjadi lebih baik

Terkadang, keinginanmu yang bisa terselesaikan dengan cepat agar dapat berpindah mengurus hal yang lain bisa saja bukanlah yang terbaik menurutNya. Di sini kamu diajarkan kesabaran. Kamu mesti memahami, bahwa sabar sejatinya tidak berbatas. Kamu, akan menjadi lebih baik.

Orang-orang di sekitarmu berhamburan memberi hikmah. Ada kamu yang menanti, dia yang sudah bergerak, kemudian ada mereka yang menunda-nunda kesempatan waktu luang.  Yang berhamburan itu semata-mata mengajarimu bahwa tidak semua orang mampu menghargai nikmat waktu. Mungkin hanya sedikit. Maka jadilah yang sedikit itu. Kamu, akan menjadi lebih baik. 
Semuanya akan mengingatkanmu kembali bahwa yang terjadi dan yang akan terjadi berada di bawah pengawasanNya. Tidak ada setetes embun yang jatuh begitu saja. Sama halnya dengan tidak ada usaha, sabar, dan tawakkal yang berlalu begitu saja. Ia sedang merancang sesuatu yang terbaik untukmu. Dan kamu, tinggal meyakininya saja dengan seluruh jiwamu. Kamu, akan menjadi lebih baik.

Selamat pagi, untukmu. Semoga kebaikan senantiasa meliputi hari-harimu.