Showing posts with label Untitled. Show all posts
Showing posts with label Untitled. Show all posts

Monday, August 18, 2014

Kepada Bayang Gingga



Adalah Veer yang  telah bersepakat dengan dirinya bahwa ia tak akan segan mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan orang lain. Suatu ketika, dalam sebuah misi penyelamatan, Veer berhasil menyelamatkan  seorang gadis asing yang membuatnya jatuh hati. Sejak itu, hidup Veer tidak pernah lagi sama. Namun, hidup belum sepenuhnya berpihak pada Veer. Sebelum ia sempat mengatakan isi hatinya, sang gadis asing harus kembali ke tempat asalnya.  Keduanya terpisah. Cukup lama. Hingga Veer tak sadar bahwa usianya telah berpacu, bertambah hendak menandingi rasa cintanya yang tersimpan dalam-dalam. Ia rahasiakan pada orang-orang yang lalu lalang. Anggap saja, ini adalah bagian dari misi penyelamatan, katanya.

Pada masa rambut nyaris memutih, Veer terbang dengan sayap-sayap besi yang kokoh. Mencari sebuah tempat yang menjadi target terakhir misi penyelamatannya. Setelah terbang, ia berlayar. Mengarungi garang bahari yang luas. Lalu, sampailah ia di suatu tempat yang jauh. Di sana, Veer menjalankan misi terakhirnya. Beratap langit asa-asa dan menikmati setiap jengkal tapaknya.
***
Kau tahu, Gingga? Kabarnya Veer menghabiskan separuh hidupnya di tempat yang jauh itu hingga akhir hayatnya. Setelah berkali-kali ia melakukan misi penyelamatan untuk orang lain, ternyata di usia senjanya ia melakukan misi penyelamatan untuk dirinya sendiri. Kau masih ingat dengan gadis asing itu? Ya, dialah visi atas misi terakhir Veer yang senja. Dia berhasil. Mengikrarkan,menemukan, mengatakan, lalu melaksanakan.

Gingga, dulu kita pernah bercerita tentang kesempatan kedua. Veer, seberapa lamapun perjuangannya, adalah orang yang beruntung atas kesempatan kedua itu. Sayangnya, kita tak dibekali pengetahuan pasti tentang kepemilikan kesempatan kedua. Dan buruknya lagi, sebagian manusia memang tidak ditakdirkan atas kesempatan kedua itu.
Maka Gingga, pandai-pandailah memanfaatkan waktu di kesempatan pertamamu. Mana tahu, yang pertama itu justru adalah yang terakhir di buku takdirmu.
 

Thursday, June 19, 2014

Semacam Pengingat


Jika saja ada semacam pengingat yang langsung mengetuk kepala begitu saya lupa, maka saya akan meminta dia mengetuk kepala saya sambil menyenandungkan kalimat ini,

Bahwa, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar meminta yang terbaik dari Allah. Nikmat lain yang tak jarang luput dari do’a-do’a manusia.
Ia adalah nikmat kuat dan ikhlas menerima segala ketetapanNya. Terutama ketetapan Allah yang pada perkiraan manusia bukanlah ketetapan yang terbaik. 

Tapi, saya akan meminta agar dia mengetuk kepala saya dengan cara yang baik. Sebab yang baik, lebih bisa masuk ke kepala saya dan biasanya susah sendiri mencari jalan keluar. Biar. Biar mereka terperangkap dalam kepala saya.

Ada yang punya? Mohon kiranya mengetuk kepala saya sekarang juga.

Wednesday, March 19, 2014

Asa.

Setiap kita bangun di pagi hari, kita diajarkan berterima kasih
Pada Sang Maha Pencipta, atas segala belas kasih sayangNya
Rasa terima kasih yang tumpah dan menderas jatuh ke bumi
Teriring do’a-do’a  yang berbalas terbang jauh hingga ke atas langit
Kau tahu, kupikir do’a-do’a ini untukmu
Sebuah asa yang belum menemui keberaniannya.

Sunday, February 9, 2014

Sulang Ingatan



Ini pernyataan. Bahwa akan selalu saja ada pengulangan. Kita jatuh cinta, patah hati, lalu jatuh cinta lagi. Menyukai, membenci, lalu menyukai lagi. Hidup, mati, lalu nanti dihidupkan lagi. Semua serba terulang. Maka, meratapi sesuatu secara berlebihan hanya akan meruntuhkan pertahanan dirimu terhadap hidup itu sendiri. Kita belajar, bekerja, ataupun hanya berdiam diri saja di rumah, semua pasti sampai pada titik dimana kita memandang hidup ini sebagai sesuatu yang serba melelahkan. Lalu dengan siklus yang sama, perasaan itu terulang lagi di belahan waktu yang berbeda. 

Yang serba terulang, kemudian diisi dengan beraneka ragam perasaan. Mereka hadir seperti hujan yang menggembirakan, sewaktu-waktu seperti badai yang menakutkan, ada kalanya juga seperti tulisan masa lalu yang menggelikan. 

Betapa pun mereka, semua akan tiba pada suatu ingatan yang berulang. Lalu setelah itu, muncullah serbuk rindu yang membentuk pola merah jambu. Seperti warna hati mereka yang sedang kembali jatuh cinta.

Pada ingatan yang berulang, kita bersulang.