Showing posts with label Green Poetry. Show all posts
Showing posts with label Green Poetry. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

Partitur Aficionado

Dia, laki-laki setengah baya memegang cerutu
Menertawai kotak kayu depan dipan kamarnya
Pandangannya gempita ke segala arah dalam sorak sorai malam yang gerah
Tepuk tangan keriputnya membius sunyi
Untuk siapa?
Untuk mereka para perkasa yang melewati terjal hutanhutan gersang !

Tuan Aficionado,
Demikian namanya
Seorang tua di atas kursi goyangnya. Mengkhatamkan korankoran pagi sambil minum kopi
Senyumnya tipis di antara kebul asap cerutunya
Untuk siapa?
Untuk mereka modelmodel koran pagi yang mengironi !

Tuan Aficionado,
Dengan tubuh ringkihnya
Merangkak di bawah matahari yang hampir terbenam sebelum waktunya
Menenteng rapor hitam penuh bercak darah
Menuju riuh suarasuara. Banyak namun tak jelas
Untuk siapa?
Untuk mereka, pemilik suarasuara sumbang !

Tuan Aficionado,
Menyulam partitur ringkih di atas meja tuanya
Hendak ia persembahkan kepada negeri tercintanya
Saat tiba di kembara pagi dan malammalam yang ambigu.

Tuan Aficionado,
Takjub dalam tawa, tertawan dalam senyum,
Lalu mati di bawah tiang harapan di ujung usianya
Bersama partitur yang tak pernah dimainkan.

Wednesday, March 13, 2013

Sebentar Saja

Sepertinya kita perlu mengambil jeda. Sebentar saja
Menyandarkan punggung-punggung kelelahan
Menginsyafkan perut-perut kekenyangan
Meluruskan niat-niat kesesatan
Membasuh wajah-wajah keangkuhan

Sebentar saja.
Lupakan hingar bingar itu
Kita rengkuh doa dalam sepi
Merasakannya terbang mengelilingi sang bumantara
Lalu berakhir di pelupuk mata malam
Sebagai deklarasi lemahnya Al Insan

Sebentar saja
Menangis lah sejadi-jadinya
Menyesal lah sedalam-dalamnya
Untuk dunia yang terlalu diagung-agungkan, digaung-gaungkan

Setelah itu
Biarkan tawakkalmu mengalun dalam tidur
Melebur ragu, membentuk kepasrahan yang utuh
Bukan. Bukan pada sesiapa
Bukan manusia, pun bukan malaikat
Tapi pada Ia, Yang Maha Kuat
Tidak mengantuk, tidak pula tidur
Yang Malu, manakala tidak mengijabah doa-doa hambaNya

Maka masihkah ragu meliputi raga mu?

Saturday, November 24, 2012

Pecahan

lalu perempuan mulai memikirkan apa yang akan terjadi besok, lusa, semenit, dua menit
pada hembus nafas selanjutnya
pelan-pelan  semacam pecahan kaca yang berserakan dan mengumpulkan dirinya sendiri
menjadi utuh kembali, namun retak di sana sini

kemudian air yang telah lama tertahan
seperti membuncah. memaksa keluar dari dua cadas kelopaknya
terberai pada masa yang disimpul senyum, mati

lalu, mestikah menyalahi waktu?
perempuan masih saja bertanya pada wajah pecah-pecah
dalam pecahan semacam kaca

Sunday, November 4, 2012

Alhambra



Alhambra oh Alhambra
Hanya mungkin dalam mimpi
Atau istana mambang dan peri
Yang telah menjelma
Bila purnama raya
Memandikanmu dengan cahaya
Gemerlapan berkejaran
Riak air berdesiran
Bisik hati akan bergema
Oh alangkah indahnya
Pangeran India menulis Alhambra dengan hanya sebuah kalimat pendek:
Andaikata firdaus ada di dunia
Maka firdaus itu ialah Alhambra

(oleh: Victor Hugo dalam Israr,1978: 226)


>>Teruntuk Alhambra,
Kami menanti kumandang adzanmu.