Thursday, December 3, 2020
Qadama dan Bau Baju Ibunya
Wednesday, November 18, 2020
Tilik
Tuesday, November 17, 2020
Dari Balik Jendela
Sunday, July 5, 2020
Tabula Rasa
Anak-anak adalah makhluk Allah yang mudah sekali berbahagia, lalu menularkan kebahagiaan itu kepada orang-orang di sekitarnya. Kenyataan ini membuat saya bergabung dalam suatu komunitas pengajar anak yatim sewaktu kuliah dulu. Setiap hari Ahad pagi, saya dan beberapa sahabat akan sibuk membuat sarapan untuk anak-anak itu dan membawanya ke tepi danau kampus tempat kami bertemu.
Di tepi danau inilah saya mengajarkan -sebut saja- apa yang saya bisa ke anak-anak ini. Kecuali mengajarkan mereka bernyanyi. Entah mengapa saya sangat kacau dalam hal ini. Untungnya sahabat yang lain bisa mengajarkan salah satu hal yang paling esensial di dunia anak-anak ini. Ketika menjadi seorang ibu, saya malah malu sendiri jika diminta bernyanyi di depan anak-anak. Pun dalam mengajarkan anak-anak berbagai hal, saya tidak pernah mengajarkan mereka dengan bernyanyi, karena memang saya tidak bisa. Mau bagaimana lagi? Jadi jika ada yang meminta anak-anak saya bernyanyi, maka dengan bangga saya mengatakan bahwa mereka akan menyanyikan lagu Burung Kakak Tua yang tidak sampai-sampai.
Anak-anak, seperti dalam ungkapan Latin, adalah tabula rasa. Namun dalam perjalanannya, mereka akan menyimpan banyak potensi untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan terus bertauhid di masa depan. Dengan potensi yang sedemikian hebat itu, apakah lantas saya harus menjadi orang tua yang sempurna?
Tentu saja tidak.
Orang tua tidak akan pernah menjadi sempurna dalam perjalanan mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Maka akan jadi sesuatu yang lucu nan melelahkan jika mereka menuntut pula kesempurnaan dari anak-anaknya. Pendidikan dan pengasuhan ini adalah jalan yang amat panjang. Maka ikhtiar kita adalah memperbaiki prosesnya. Belajar dan bertawakkal tetap harus diupayakan, sebab itulah ikrar kita sebagai hamba Allah yang tidak tahu apa-apa, kecuali dengan pertolongan-Nya.
Maka mulai sekarang, terima dan syukurilah yang sedikit dari mereka. Belajarlah bahwa betapa mudahnya mereka berbahagia dan menularkan kebahagiaan itu kepada orang-orang di sekitarnya.
Thursday, May 28, 2020
Sedikit Cerita tentang Bulan-Bulan Sunyi
Tiga bulan sudah menjalani kehidupan baru di rumah saja. Tanpa gemerlap lampu-lampu kota, tanpa bising suara kendaraan lewat, dan tanpa suara khas suami mencari kunci motornya. Bulan-bulan yang memberi banyak pelajaran dan tempaan, bagi saya. Suatu ketika gagal padahal sudah berusaha. Suatu ketika rindu, tapi mau bagaimana?
Saya pernah memikirkan kondisi suami banyak-banyak. Dia sedang apa? Lagi dimana? Amankah kondisinya? Akhirnya sedih sepanjang hari. Lalu saya menyadari bahwa ini bukanlah perasaan peduli yang sebenarnya. Saya terlalu memikirkan sampai lupa pada tempat bertumpu yang sebenarnya.
Mentok lagi, mengadu lagi dan akhirnya sampai pada hikmah di sebaliknya.
Bulan Ramadhan hadir mengubah segalanya. Tahun lalu masih sering mengeluh mengatur waktu antara pencapaian target harian Ramadhan dengan mengurusi kebutuhan rumah tangga. Alhamdulillah tahun ini Allah buka kesempatan untuk memperbaiki kekurangan itu selebar-lebarnya. Anak-anak sudah semakin besar, sudah mampu bermain sendiri dan memenuhi keinginannya untuk makan, minum, dan beristirahat.
Lama kelamaan saya mulai menemukan ritme. Nikmati saja, tidak perlu diburu-buru waktunya, jalani hidup sebagaimana mestinya, dan itu sangat menyenangkan lagi menenangkan.
Saya tidak ingin berbicara tentang betapa banyaknya kesedihan di bulan-bulan sunyi ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya mengontrol kesedihan atas semua yang telah Allah gariskan dalam proses menjadikan saya lebih baik. Pun sebagai bentuk cinta-Nya kepada saya. Tetap pelihara prasangka baik kepada-Nya, cobalah jenguk kebiasaan masa kecilmu, dan tidak ada salahnya untuk menanam dan merawat tanaman kesukaanmu.
Tenang saja! Pandemi ini akan berakhir, biidznillah.