Thursday, December 3, 2020

Qadama dan Bau Baju Ibunya


Air minum itu diteguk sampai habis. Qadama menyimpan gelas, mengusap bibirnya, lalu kembali berlari menuju teman-teman sepermainannya. Rambut curtain-nya terbang-terbang. Pelan-pelan memperlihatkan dahinya yang lebar. Meski demikian, Qadama tetaplah anak yang rupawan, setidaknya bagi ibunya. Seperti biasa, Qadama akan menghabiskan waktu selepas asar untuk bermain dengan teman-temannya. Ia belajar bersosialisasi, meski sedang pandemi.

Butuh waktu yang lama bagi Qadama untuk membangun kepercayaan dan kenyamanan kepada orang selain ibunya. Ia anak yang penuh dengan kehati-hatian dan cukup perfeksionis. Pernah suatu ketika ia diajak berenang dan Qadama hanya sibuk mengamati kolam hingga akhirnya pulang kembali ke rumah. Jangan pernah coba untuk merayu apalagi memaksanya, sebab Qadama tidak menyenangi hal itu. Namun jika ia mau, hatta ia mampu memberi kejutan di saat-saat yang tak terduga.

Qadama senang menyambut senja bersama teman-temannya, lalu kembali ke rumah menikmati malam-malam yang panjang.  Di selasar sadarnya, Qadama perlahan menyelami mimpi-mimpinya lewat bau baju ibunya yang hangat. Jikapun telah dewasa kelak, semoga tetap menjadi tempat kepulangan yang selalu dirindukan.

Wabah bisa saja menjarah semuanya satu per satu. Tapi tidak dengan kelekatan. Justru ia haruslah tetap dikuat-kuatkan.


Wednesday, November 18, 2020

Tilik


Kuteringat sebuah rumah dengan langkah-langkah ringkih kita ke sana selama bertahun-tahun. Kita menaiki tangga perlahan dan masuk ke sebuah ruangan dengan bau ampas kopi yang semerbak.
Kamu melempar tas dan membiarkanku menjelajah isi kamarmu. Kamu lalu tertidur lelap sekali tanpa kipas angin yang menemani.

Aku putuskan menunggumu sambil mendulang kenangan tempat ini. Kubuka rak bukumu yang sedikit berdebu dan mendapati beberapa buku yang masih bersampul mika. Kamu lantas tertidur lelap, lelap sekali.

Matahari berangsur turun, gelap sudah tempat ini dan kamu masih juga tertidur lelap. Kuputuskan untuk pergi pelan-pelan, tanpa membangunkanmu.

Kuhalau matahari dengan bukumu yang masih bersampul mika. Kubawa ia ke tempatku, agar ada alasan untuk bertemu kembali.

Di Sabtu siang, di tempat lain, aku memanaskan air lalu menyeduh kopi. 

Tiba-tiba ada deru yang membuatku sesak
Aku ingat kamu.

Kamu jangan sedih, ya!
Kupeluk kamu dengan do'a
Sedari kini hingga nanti-nanti.

Tuesday, November 17, 2020

Dari Balik Jendela

Yang mereka tahu, hujan adalah waktu yang baik untuk duduk dari balik jendela, sambil minum susu kurma.
Bercerita tentang kepulangan dan hadiah-hadiah yang membahagiakan.

Meski sudah dimarahi ibu, mereka tetap bisa membuat haru, berkali-kali.

Karena mereka, ibu berusaha kuat

meski yang lain t'lah buat ibu penat.

Sunday, July 5, 2020

Tabula Rasa

Anak-anak adalah makhluk Allah yang mudah sekali berbahagia, lalu menularkan kebahagiaan itu kepada orang-orang di sekitarnya. Kenyataan ini membuat saya bergabung dalam suatu komunitas pengajar anak yatim sewaktu kuliah dulu. Setiap hari Ahad pagi, saya dan beberapa sahabat akan sibuk membuat sarapan untuk anak-anak itu dan membawanya ke tepi danau kampus tempat kami bertemu.


Di tepi danau inilah saya mengajarkan -sebut saja- apa yang saya bisa ke anak-anak ini. Kecuali mengajarkan mereka bernyanyi. Entah mengapa saya sangat kacau dalam hal ini. Untungnya sahabat yang lain bisa mengajarkan salah satu hal yang paling esensial di dunia anak-anak ini. Ketika menjadi seorang ibu, saya malah malu sendiri jika diminta bernyanyi di depan anak-anak. Pun dalam mengajarkan anak-anak berbagai hal, saya tidak pernah mengajarkan mereka dengan bernyanyi, karena memang saya tidak bisa. Mau bagaimana lagi? Jadi jika ada yang meminta anak-anak saya bernyanyi, maka dengan bangga saya mengatakan bahwa mereka akan menyanyikan lagu Burung Kakak Tua yang tidak sampai-sampai.

Anak-anak, seperti dalam ungkapan Latin, adalah tabula rasa. Namun dalam perjalanannya, mereka akan menyimpan banyak potensi untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan terus bertauhid di masa depan. Dengan potensi yang sedemikian hebat itu, apakah lantas saya harus menjadi orang tua yang sempurna?

Tentu saja tidak.

Orang tua tidak akan pernah menjadi sempurna dalam perjalanan mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Maka akan jadi sesuatu yang lucu nan melelahkan jika mereka menuntut pula kesempurnaan dari anak-anaknya. Pendidikan dan pengasuhan ini adalah jalan yang amat panjang. Maka ikhtiar kita adalah memperbaiki prosesnya. Belajar dan bertawakkal tetap harus diupayakan, sebab itulah ikrar kita sebagai hamba Allah yang tidak tahu apa-apa, kecuali dengan pertolongan-Nya.

Maka mulai sekarang, terima dan syukurilah yang sedikit dari mereka. Belajarlah bahwa betapa mudahnya mereka berbahagia dan menularkan kebahagiaan itu kepada orang-orang di sekitarnya.

 

 

Thursday, May 28, 2020

Sedikit Cerita tentang Bulan-Bulan Sunyi

Tiga bulan sudah menjalani kehidupan baru di rumah saja. Tanpa gemerlap lampu-lampu kota, tanpa bising suara kendaraan lewat, dan tanpa suara khas suami mencari kunci motornya. Bulan-bulan yang memberi banyak pelajaran dan tempaan, bagi saya. Suatu ketika gagal padahal sudah berusaha. Suatu ketika rindu, tapi mau bagaimana?

Saya pernah memikirkan kondisi suami banyak-banyak. Dia sedang apa? Lagi dimana? Amankah kondisinya? Akhirnya sedih sepanjang hari. Lalu saya menyadari bahwa ini bukanlah perasaan peduli yang sebenarnya. Saya terlalu memikirkan sampai lupa pada tempat bertumpu yang sebenarnya.

Mentok lagi, mengadu lagi dan akhirnya sampai pada hikmah di sebaliknya.

 
Bulan Ramadhan hadir mengubah segalanya. Tahun lalu masih sering mengeluh mengatur waktu antara pencapaian target harian Ramadhan dengan mengurusi kebutuhan rumah tangga. Alhamdulillah tahun ini Allah buka kesempatan untuk memperbaiki kekurangan itu selebar-lebarnya. Anak-anak sudah semakin besar, sudah mampu bermain sendiri dan memenuhi keinginannya untuk makan, minum, dan beristirahat.

Lama kelamaan saya mulai menemukan ritme. Nikmati saja, tidak perlu diburu-buru waktunya, jalani hidup sebagaimana mestinya, dan itu sangat menyenangkan lagi menenangkan.

Saya tidak ingin berbicara tentang betapa banyaknya kesedihan di bulan-bulan sunyi ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya mengontrol kesedihan atas semua yang telah Allah gariskan dalam proses menjadikan saya lebih baik. Pun sebagai bentuk cinta-Nya kepada saya. Tetap pelihara prasangka baik kepada-Nya, cobalah jenguk kebiasaan masa kecilmu, dan tidak ada salahnya untuk menanam dan merawat tanaman kesukaanmu.

 
Tenang saja! Pandemi ini akan berakhir, biidznillah.