Wednesday, November 18, 2020

Tilik


Kuteringat sebuah rumah dengan langkah-langkah ringkih kita ke sana selama bertahun-tahun. Kita menaiki tangga perlahan dan masuk ke sebuah ruangan dengan bau ampas kopi yang semerbak.
Kamu melempar tas dan membiarkanku menjelajah isi kamarmu. Kamu lalu tertidur lelap sekali tanpa kipas angin yang menemani.

Aku putuskan menunggumu sambil mendulang kenangan tempat ini. Kubuka rak bukumu yang sedikit berdebu dan mendapati beberapa buku yang masih bersampul mika. Kamu lantas tertidur lelap, lelap sekali.

Matahari berangsur turun, gelap sudah tempat ini dan kamu masih juga tertidur lelap. Kuputuskan untuk pergi pelan-pelan, tanpa membangunkanmu.

Kuhalau matahari dengan bukumu yang masih bersampul mika. Kubawa ia ke tempatku, agar ada alasan untuk bertemu kembali.

Di Sabtu siang, di tempat lain, aku memanaskan air lalu menyeduh kopi. 

Tiba-tiba ada deru yang membuatku sesak
Aku ingat kamu.

Kamu jangan sedih, ya!
Kupeluk kamu dengan do'a
Sedari kini hingga nanti-nanti.

Tuesday, November 17, 2020

Dari Balik Jendela

Yang mereka tahu, hujan adalah waktu yang baik untuk duduk dari balik jendela, sambil minum susu kurma.
Bercerita tentang kepulangan dan hadiah-hadiah yang membahagiakan.

Meski sudah dimarahi ibu, mereka tetap bisa membuat haru, berkali-kali.

Karena mereka, ibu berusaha kuat

meski yang lain t'lah buat ibu penat.

Sunday, July 5, 2020

Tabula Rasa

Anak-anak adalah makhluk Allah yang mudah sekali berbahagia, lalu menularkan kebahagiaan itu kepada orang-orang di sekitarnya. Kenyataan ini membuat saya bergabung dalam suatu komunitas pengajar anak yatim sewaktu kuliah dulu. Setiap hari Ahad pagi, saya dan beberapa sahabat akan sibuk membuat sarapan untuk anak-anak itu dan membawanya ke tepi danau kampus tempat kami bertemu.


Di tepi danau inilah saya mengajarkan -sebut saja- apa yang saya bisa ke anak-anak ini. Kecuali mengajarkan mereka bernyanyi. Entah mengapa saya sangat kacau dalam hal ini. Untungnya sahabat yang lain bisa mengajarkan salah satu hal yang paling esensial di dunia anak-anak ini. Ketika menjadi seorang ibu, saya malah malu sendiri jika diminta bernyanyi di depan anak-anak. Pun dalam mengajarkan anak-anak berbagai hal, saya tidak pernah mengajarkan mereka dengan bernyanyi, karena memang saya tidak bisa. Mau bagaimana lagi? Jadi jika ada yang meminta anak-anak saya bernyanyi, maka dengan bangga saya mengatakan bahwa mereka akan menyanyikan lagu Burung Kakak Tua yang tidak sampai-sampai.

Anak-anak, seperti dalam ungkapan Latin, adalah tabula rasa. Namun dalam perjalanannya, mereka akan menyimpan banyak potensi untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan terus bertauhid di masa depan. Dengan potensi yang sedemikian hebat itu, apakah lantas saya harus menjadi orang tua yang sempurna?

Tentu saja tidak.

Orang tua tidak akan pernah menjadi sempurna dalam perjalanan mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Maka akan jadi sesuatu yang lucu nan melelahkan jika mereka menuntut pula kesempurnaan dari anak-anaknya. Pendidikan dan pengasuhan ini adalah jalan yang amat panjang. Maka ikhtiar kita adalah memperbaiki prosesnya. Belajar dan bertawakkal tetap harus diupayakan, sebab itulah ikrar kita sebagai hamba Allah yang tidak tahu apa-apa, kecuali dengan pertolongan-Nya.

Maka mulai sekarang, terima dan syukurilah yang sedikit dari mereka. Belajarlah bahwa betapa mudahnya mereka berbahagia dan menularkan kebahagiaan itu kepada orang-orang di sekitarnya.

 

 

Thursday, May 28, 2020

Sedikit Cerita tentang Bulan-Bulan Sunyi

Tiga bulan sudah menjalani kehidupan baru di rumah saja. Tanpa gemerlap lampu-lampu kota, tanpa bising suara kendaraan lewat, dan tanpa suara khas suami mencari kunci motornya. Bulan-bulan yang memberi banyak pelajaran dan tempaan, bagi saya. Suatu ketika gagal padahal sudah berusaha. Suatu ketika rindu, tapi mau bagaimana?

Saya pernah memikirkan kondisi suami banyak-banyak. Dia sedang apa? Lagi dimana? Amankah kondisinya? Akhirnya sedih sepanjang hari. Lalu saya menyadari bahwa ini bukanlah perasaan peduli yang sebenarnya. Saya terlalu memikirkan sampai lupa pada tempat bertumpu yang sebenarnya.

Mentok lagi, mengadu lagi dan akhirnya sampai pada hikmah di sebaliknya.

 
Bulan Ramadhan hadir mengubah segalanya. Tahun lalu masih sering mengeluh mengatur waktu antara pencapaian target harian Ramadhan dengan mengurusi kebutuhan rumah tangga. Alhamdulillah tahun ini Allah buka kesempatan untuk memperbaiki kekurangan itu selebar-lebarnya. Anak-anak sudah semakin besar, sudah mampu bermain sendiri dan memenuhi keinginannya untuk makan, minum, dan beristirahat.

Lama kelamaan saya mulai menemukan ritme. Nikmati saja, tidak perlu diburu-buru waktunya, jalani hidup sebagaimana mestinya, dan itu sangat menyenangkan lagi menenangkan.

Saya tidak ingin berbicara tentang betapa banyaknya kesedihan di bulan-bulan sunyi ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya mengontrol kesedihan atas semua yang telah Allah gariskan dalam proses menjadikan saya lebih baik. Pun sebagai bentuk cinta-Nya kepada saya. Tetap pelihara prasangka baik kepada-Nya, cobalah jenguk kebiasaan masa kecilmu, dan tidak ada salahnya untuk menanam dan merawat tanaman kesukaanmu.

 
Tenang saja! Pandemi ini akan berakhir, biidznillah.

 

Wednesday, April 8, 2020

Corona dan Hazmat Abi

Sudah hampir sebulan sejak pak suami mengirimkan foto dirinya sedang memakai hazmat lengkap dengan alat pelindung diri lainnya di depan ruang isolasi sebuah rumah sakit rujukan di Makassar. Meski ia mengirimkan foto dengan emoticon tertawa, saya paham betul bahwa kenyataannya ia sedang tidak tertawa 😔. Sejak hari itu, pak suami mulai rutin visite pasien pertama yang terdeteksi positif COVID-19 di Makassar.

Foto yang ia kirimkan kemudian disusul dengan pesan permintaan agar saya dan anak-anak mengungsi sementara waktu dari rumah untuk mengurangi risiko penularan. Dibilang sesak, tentu saja. Apalagi jika mengingat lagi bahwa pak suami harus mengurus dirinya sendiri di rumah di tengah aktivitasnya yang padat di rumah sakit. Tapi demi kebaikan bersama, saya pun akhirnya memboyong anak-anak ke rumah neneknya di Soppeng di hari berikutnya.

Di kampung, saya dan anak-anak didatangi petugas surveilans puskesmas dan dicatat sebagai ODP (orang dalam pemantauan). Dengan demikian kami harus jaga jarak dan mengisolasi diri di rumah nenek. Alhamdulillah sudah 3 pekan berlalu. Saya, anak-anak, dan pak suami di Makassar sehat-sehat saja meski kekhawatiran masih terus ada. Ditambah lagi mesti menerima kenyataan bahwa Kota Makassar sudah transmisi lokal dan disusul zona merah COVID-19 beberapa hari yang lalu.

Setiap harinya tiba-tiba terasa berjalan pelan. Pasien terdampak COVID-19 terus bertambah, berita yang benar berlomba dengan berita hoaks, stigma mulai menguasai sebagian orang, yang sadar atau tidak sadar telah mempengaruhi kondisi psikis masyarakat. Lalu, apa kabar baiknya? Bersama kesulitan, ada kemudahan. Bersama kesulitan, ada kemudahan!, itu janji Allah. Dan Allah, sekali-kali tidak pernah menyalahi janji-Nya!. Tidakkah kita merasa bahwa Allah memberi teguran ini agar kita mulai belajar bersatu, mulai belajar menahan ego, belajar bersyukur atas hal kecil, mulai belajar mencintai bumi, mulai belajar mencintai & menghargai manusia lain, bahkan keluarga kita sendiri? Jika demikian, maka mungkin itulah seri pendidikan yang Allah hadirkan untuk kita yang sudah terlampau sering melupakan bahkan mengambil hak makhluk lain di bumi ini.

Pandemi ini , seperti perkataan para ahli, akan menemui klimaksnya dan berakhir (dengan izin Allah). Yang tinggal hanyalah pertanyaan besar tentang "apakah kita termasuk orang yang dosa-dosanya berguguran dan naik ke derajat keimanan yang lebih tinggi karena telah lulus ujian?".

Semoga kita semua mampu menganggukkan kepala atas pertanyaan ini. #ntms